6.14.2014

Maaf

Harusnya pagi ini saya tersenyum girang.
Harusnya pagi ini saya tak perlu sedih.

Tapi pagi ini rasanya saya telah mencurangi karena saya terlalu memaksa meminta kepada Sang Pemilik Hati.

Maafkan hamba yang mendadak mencintainya melebihi cinta hamba pada Mu.

Maaf. Astagfirullah.

5.28.2014

Untukmu dan Hatimu yang Tak Mampu Kuraih

Pagi itu aku menaiki bis itu dengan ketakutan. Aku takut terlambat karena angkutan umum langgananku penuh sehingga aku tak kebagian tempat untuk diangkutnya menuju sekolah.

Kulihat sekeliling isi penumpang bis sambil mulutku komat-kamit berucap dzikir menenangkan hatiku. Aku takut terlambat dan aku takut karena memang belum pernah naik bis ini sendirian. Ternyata tak ada yang istimewa di dalam bis ini, pikirku. Aku lanjutkan merapal dzikir hingga tiba di jalan aku harus turun. 

Aku masih penuh ketakutan ketika turun dari bis melihat jalan menuju sekolah masihlah gelap. Jantungku berdebar tak karuan, nafasku mendadak satu-satu, aku panik. Langkah kaki kupercepat agar segera mencapai sekolah. Namun, mendadak aku sadar bahwa aku tak sendiri. Ada yang berjalan bersamaku-di belakangku. Kucuri pandang ke arahmu dan kau tersenyum, mengisyaratkan kau bukanlah orang yang perlu kukhawatirkan. Aku aman.

Semenjak hari itu, aku selalu mencarimu ketika berangkat sekolah menggunakan bis. Setiap aku melihatmu ada bersamaku menjadi penumpang bis, aku tahu bahwa aku aman, meski kau tak pernah menghiraukan hadirku. Kau membuatku merasa aman dan nyaman. Semenjak hari itu pula, aku tahu bahwa kau juga bersekolah di tempat yang sama denganku, sehingga untukku kau adalah penjaga jiwaku.

Tanpa sadar hari berlalu menjadi tahun, aku kehilanganmu pindah melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Aku mulai gusar. Setelah kutahu kemana kau pergi, kuputuskan bahwa aku kan melanjutkan sekolah yang sama denganmu. Paling tidak kau akan menjaga jiwaku di awal hari kumulai aktifitas baruku yang seringkali tak mudah dilalui, pikirku saat itu.

Tuhan menjawab doaku, aku mengikutimu. Namun masa telah berganti dan aku mengenal sosok lain yang kupikir mampu menjaga jiwaku sepertimu menjaga jiwaku. Ternyata aku salah, kau tetap penjaga jiwaku yang terbaik meski kau mungkin tak pernah sadar kehadiranku. Kau tetap yang teristimewa.

Tahun berlalu hingga kutak tahu kemana rimbamu. Aku menjadi sosok yang lebih berani ketimbang kecilku dulu. Tanpa kau sadari, kau adalah penyelamat dan penjaga jiwaku. Tanpamu saat itu mungkin tak kan kudapat hari indahku saat ini. Tanpamu saat itu mungkin aku kan tetap menjadi gadis cilik penakut dan manja.

19 tahun kemudian kita bertemu. Kau nampak rapuh dan aku sedih melihatmu seperti itu. Senyummu yang dulu masih ada namun tanpa sorot mata yang sama seperti kau membagi senyummu pertama kali denganku. Lukamu terlalu dalam. Entah apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu kembali bersinar seperti kala itu. Tak perlu seterang sinar yang lalu, cukuplah kau memiliki sinarmu lagi. Itu harap dan doaku.

Aku disini hanya mampu diam melihatmu meski hati dan jiwaku ternyata selalu tertuju padamu kemanapun dan kapanpun aku pergi menjauhimu. Bila dulu aku hanya mampu memandangi punggungmu dan aku sudah merasa tenang, berbeda dengan saat ini. Setiap kumemandang fotomu, aku tahu hidup dan jiwamu tak setenang dulu.




Nb. Aku tak pernah tak jatuh cinta padamu sejak pertama kali kau membagi senyummu padaku.

5.14.2014

Tuliskan Mimpimu..!

Percaya tak percaya, semua mimpi saya sejak kecil saya tuliskan berulangkali di sebuah buku yang entahlah kemana buku itu sekarang pergi.

Dari mulai saya ingin jadi apa, ingin kemana, ingin dengan siapa, ingin bagaimana, dan ingin ngapain aja,, hampir semua saya pernah tulis. Dan itu ternyata semacam doa dari seluruh sel dalam tubuh saya dan didukung semesta karna saya membaginya lewat tulisan.

Tuhan tak pernah tidur, itu yang saya yakini. Meski mimpi dan ingin saya lambat hadir, tapi perlahan satu persatu mulai terwujud. Ternyata doa saya sepertinya disepakati Tuhan dan diberikan kepada saya di waktu yang terbaik yang saya siap hadapi menurutNya.

Saat ini saya sedang menanti salah satu mimpi saya terwujud agar mimpi-mimpi lainnya juga dapat segera terwujud.

Yuk mulai tulis lagi apa yang anda inginkan di secarik kertas, agar Tuhan tahu dan semesta ikut mengaminkan doa itu.

4.16.2014

Senja di Sekolah Masjid Terminal Depok

Cukup seringlah saya melewati jalan itu tanpa pernah sadar bila di tepi jalan itu berdiri suatu bangunan tempat belajar mengajar. Sore itu saya kembali ke sana dengan tujuan dua hal, yaitu : buka puasa bersama alumni UGM sekalian bakti sosial utk Sekolah The Master. Saya sama sekali tidak tahu menahu tentang agenda acaranya akan seperti apa karena keikutsertaan saya sore itu tak lebih dari ajakan koh Oyong Hendri dan memang saya tak ada acara apa-apa sore itu. Pepatah cina nya itu "waton melok kumpul-kumpul lan dadi pupuk bawang".

Ya, sore itu kenyataan berkata lain. Saya, yang ketika acara dibuka oleh mas Puthut, sengaja memilih langsung duduk di tengah arena agar dapat berbaur dengan peserta baksos. Saya pun ikut memperhatikan arahan-arahan dari mas Puthut yang sore itu bertindak sebagai pengisi acara-yang menurut pemikiran saya saja sih. Di tengah-tengah acara pembukaan oleh mas puthut, mendadak nama saya disebut untuk berbagi cerita dengan peserta baksos, tanpa ada tema sama sekali. "Lha blaik jal..!! Bakal ngapain nih..? Curang banget sih, yang lain dikasih tema lha saya disuruh menjawab pertanyaan apapun dari mereka.", itu semua yang ada di otak saya saat itu.

Ice breaking kelompok saya dimulai dengan pemberian senyum lebar kepada semua partisipan dan kalimat pembuka "Yak, selamat sore semuanya, seperti yang tadi sudah disampaikan, adakah yang ingin bertanya-tanya? Bisa tentang apa aja sih nanyanya...dan inshaAlloh bakal saya jawab selama saya bisa jawab ya.."
Dan ternyata segerombolan cewek-cewek ABG itu dengan cepat bertanya "Di UGM ada jurusan apa saja ya kak?", belum sempat saya jawab, ada yang menambahi "Ada jurusan arkeolog gk kak?",,di otak saya cuma terlintas "wedew..!"
Mungkin karena tampang saya berubah bingung n galau, merekapun terdiam. Saya akhirnya menjawab "UGM punya buanyak jurusan, keknya semua ada deh, cuma untuk detilnya saya gk hapal." Langsung ada yang menyahut "Kakak jurusan apa? Di Jogja ngekos atau rumah sendiri? Kakak kuliah bayar sendiri atau dapat beasiswa?", satu persatu saya coba jawab hingga ada pertanyaan yang cukup menggelitik "Jadi sebenernya, kakak ini kuliahnya jurusan teknik ato hukum? Sekarang semester berapa?". Sontak saya langsung merasa gdubrak krompyang,, saya masih dianggap mereka sebagai bukan alumni. Woy...!!! Seimut itukah saya.? :p wkkkk...
Di setiap jawaban saya atas pertanyaan mereka, agak saya beri sedikit doktrinasi sih bahwa janganlah sekedar ingin kuliah untuk bekerja ikut orang, tapi berkuliah untuk menambah ilmu, wawasan dan memperluas pola pikir dan cara pandang kita dalam hidup. "Terapkan saja ilmu yang sudah bertambah itu dengan membuka lapangan pekerjaan sendiri,, bisa dari pengembangan hobi maupun karena kebutuhan orang-orang yang ada di sekeliling tempat tinggal kita". Masih ada lagi pertanyaan, "Kakak cita-citanya dulu apa? Kesampaian gk? Trus kalau sampai salah ambil jurusan kuliah bagaimana dong caranya? Bisa pindah gk sih?", jawab saya sederhana, saya ceritakan saja kisah saya "Dulu saya bercita-cita masuk kuliah jurusan nuklir tp karena dilarang orang tua, akhirnya cita-cita saya ganti 'pengen jadi orang sukses', meski merasa sudah salah jurusan, semuanya saya syukuri dan tetap jalani asal saya bisa sesukses keinginan saya. Berdamailah dengan keadaan bila kenyataan tak sama dengan impian,, terus belajar, berusaha, dan berdoa,, Tuhan pasti kasih solusinya. Selama apa yang kita lakukan itu positif, pasti hal-hal baik akan mengikuti hingga kita tak sadar kalau sebetulnya kita sudah salah ambil jurusan." Dan wajah-wajah lugu itu mengangguk-angguk setuju, dimana beberapa ada yang nampak mendapat semacam 'pencerahan' dan beberapa lagi langsung sibuk kembali ke kesibukannya sendiri-sendiri alias ngobrol entahlah apa dengan temannya.

Dalam hati sih mbatin "Buset dah, kok malah jadi provokator gini sih, haduh, kalo menyesatkan gimana ya.? Ah, cueklah,, toh gk kusuruh bikin bom or teror ini." :D

Dan sore itupun berganti menjadi petang tatkala acara berganti menjadi kultum oleh ustadz entah siapa,serta saya malah jadi kebingungan sendiri mo ngapain lagi kala itu.

1.18.2014

Entah

Mungkin ini keluhan.

Bisa juga hanya curahan hati.

Saya ingin menangis dari kemarin, entah apa alasannya.

Saya bingung.

Saya ingin mengeluh, namun hanya ingat untuk harus terus bersyukur.

Baik ataupun buruk menurut saya, itulah anugrah Tuhan dan harus disyukuri.

Tapi saya tetap ingin menangis.

Hanya menangis tanpa perlu menjelaskan alasan dibalik tangisan itu.

12.24.2013

Cinta yang Kucari

Bukan mengharapmu akan mencintaiku selamanya...tapi ku kan lebih mengharap bahwa Sang Khalik saja yang melakukan itu barulah dirimu.

Maaf jika aku menjadikanmu yang kedua setelah Sang Khalik, tapi kuyakin kau tak kan marah dengan pilihanku yang satu ini.

Aku tak kan bisa bertemu denganmu bila restu dari Sang Khalik tak ada untuk kita dan kutahu kau pun akan menyetujui hal ini.

Bila nanti ku kan berjalan bersamamu hingga waktuku habis, kuingin hari-hariku hanyalah tentang Sang Khalik, dirimu dan keturunan kita kelak.

Ku tahu semua ini masih harapan semuku, tapi kuyakin kau kan setuju bahwa apapun gundah dalam hatiku akan selalu kudiskusikan hanya dengan Sang Khalik dan bila kelak kita bersama kaulah yang kedua yang kan kutuju dan kuajak diskusi.

Jadi, cinta yang kucari adalah cinta Sang Khalik padaku,, dengan mengirimmu padaku,, dengan tetap mencintaiNya selamanya.

Itu sudah.

*nb: waiting isnt always easy, but knowing that guy is you, I'll be patient and pleasant

12.10.2013

.tu.me.manque.

Semacam mimpi, kau datang lagi setelah 14 tahun lalu kau meninggalkanku dalam tanda tanya dan kepercayaan diri yang sungguh rendah.

Kau datang, tanpa basa basi, membuatku tergelitik untuk menggali semua yang telah terkubur waktu.

Aku tak tahu apa yang salah sehingga waktu membawamu kembali padaku. Kukira hidupku telah selesai dan tak perlu lagi ku merasakan lagi apa yang disebut jatuh hati. Tapi Tuhan punya rencana yang indah sepertinya,, kau disuruhNya kembali masuk dalam hidupku,, kau membuatku merasakan kembali bahwa kau pernah menjadi semangat dalam menjalani hidupku namun dengan cara yang lain.

Yaa...dulu aku malu-malu melihatmu, bingung bereaksi setiap bertemu pandang denganmu, dan memilih berputar haluan bila akan bertemu dirimu. Aku hanyalah mampu menjadi pengagum rahasiamu, selebihnya aku kelu dan lemas tak berdaya.

Sekarang,, aku tak mampu tak berbincang denganmu. Entah untuk bertemu, rasanya masih tak mampu. Rasa tak percaya diri itu masih terus menghantui, ditambah cerita akanmu membuatku ragu untuk maju memperkenalkan diri.

Apapun itu, aku sadar dan yakin bahwa kau adalah cinta pertamaku dan kuberharap bahwa kau akan menjadi orang yang menemaniku hingga Tuhan memanggil salah satu diantara kita.

Muluk? Kurasa tidak. Kau adalah seseorang yang akan mampu menyempurnakan masa depanku. Tak ada cela yang perlu kucari karena aku memahamimu meski kita belum bertemu (lagi).

Aku hanya sedang menunggumu lepas dari masa lalumu dan mengajakku berkelana bersama selamanya.

Bila ternyata kau tidak untukku, kali ini aku akan berhenti berharap karena aku telah lelah mencari.

Tuhan, bisakah dia untukku karena ku tak mampu berhenti memikirkannya sedetikpun meski ku sudah berusaha tak mengindahkannya sama sekali..?