12.04.2015

(ternyata) Menikah itu Berat, Bok.!


Sekitar delapan tahun lalu sampai setahunan terakhir kemarin, saya membayangkan bahwa menikah adalah suatu hal yang indah. Membayangkan begitu bahagianya kita memiliki seorang yang mencintai kita setiap waktu, kemana-mana berdua kapanpun, dan hal-hal indah muluk lainnya.

Kenyataannya, menikah itu memang indah :p daaaaaaaan berat. Berat.?!?
Iyalah berat, wong baru 4bulan lewat saya menikah ini aja berat badan saya naik 10kg. Jelas berat kan,, hehehhee...

Kenyataan lain yang terungkap adalah yang berat tidak hanya badan saya saja namun juga badan pasangan saya. Bedanya, naiknya di kisaran separo dari angka saya tadi. Jadi cukup legalah mas suami pas tahu angkanya kalah banyak ketimbang angka saya, hihihiii...

Dampak yang timbul membuat hidup dengan status menikah itu menjadi lebih seru adalah kita berdua jadi lebih sering pergi untuk berburu baju baru dengan ukuran yang besar, jumbo, ataupun super lebar >_<. Kita berdua juga lebih rajin mencari info olahraga yang efektif meski akhirnya hanya ketika mood saja dilakukan, hehhehe...yang penting kan sudah berusaha, tul gk?

Selain hal-hal di atas, masih banyak kejutan-kejutan yang tak terbayangkan dan sepertinya tak ada panduan yang menuliskannya, yang terjadi di kehidupan pernikahan itu. Kebanyakan hal-hal sepele, tapi ada juga hal besar yang seharusnya sudah ada kesepakatan solusi sebelum memutuskan menikah. Khususnya hal-hal terkait dengan kebiasaan kita yang berbeda dengan pasangan, cara pandang seorang wanita yang tentunya akan berbeda dengan cara pandang seorang pria, dan masalah keuangan. Meski ATM hidup kita adalah suami, kita tetaplah sebagai Menteri Keuangan Rumah Tangga yang harus cermat, cerdas, dan bijak dalam mengelola uang yang keluar dan masuk.

Kalaupun tetap ada masalah yang muncul, ya wajarlah...toh memang masih hidup ini. Kalau sudah tak ada masalah, itu artinya kita sudah mati sodara-sodara :). Kunci utama dari menikah sepertinya sih adalah komunikasi, kepercayaan, kejujuran, kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur. Sepertinya sih karena umur pernikahan saya baru seumur jagung lewat dikit, hehhehee....

Jadi, kalau kalian merasa menemukan Mr. Right, tolong pastikan bahwa semuanya termasuk semesta pun mendukung kalian. Bila masih ada ganjalan di hati kita ataupun orang-orang terdekat kita (keluarga, etc.), baiknya sih dipikir ulang keputusan untuk menikah. Bukan apa-apa, agar bila ada masalah ketika menikah, kalian bisa minta saran dan pendapat ke orang-orang terdekat kalian dengan lebih nyaman. Itu saja. Etapi tentunya kalian minta pendapat setelah kalian mentok saat mencoba menyelesaikan sendiri terlebih dahulu loh ya. Jangan belum apa-apa sudah angkat bendera putih ke keluarga.

Last but not least, tak hentinya saya mendoakan untuk semua teman yang belum menemukan pasangan hidup sejatinya agar segera dipertemukan di waktu yang terbaik, dalam kondisi terbaik, dan merupakan jodoh yang benar-benar terbaik. Aamiin. Semangaaaat ya..! :)

10.16.2015

Gagal Move On

Lavender alias Levi masih terpaku pada layar telpon genggamnya. Dia baru saja memencet tombol dari salah satu koleganya namun cepat-cepat dia putuskan sambungan. Berulangkali hanya hal itu yang dilakukannya.

Entah apa yang ada di benaknya. Tapi seharian ini, hanya hal itu saja yang dilakukan Levi disela-sela kegiatannya sebagai koki utama di sebuah resto ternama.

Kejadian tersebut tidak hanya terjadi hari itu saja, namun sudah berlangsung setiap hari selama 3 bulan terakhir ini. Kalau menurut bahasa anak muda saat ini, kondisi Levi adalah sedang galau. Levi gagal move on dari suatu hal yang tak seorangpun paham.

Kondisi Levi ini banyak dilalui oleh orang-orang yang masih tak rela untuk meninggalkan masa lalunya. Baiknya, dia mulai mengisi hari-harinya dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada Sang Khalik dan menekuni aktifitas hariannya yang mulia itu, menyiapkan masakan lezat bagi pengunjung restoran.

Ahh, kasian betul Levi ini.

8.29.2015

Mencoba Berdamai

Tak mudah ternyata punya teman yang sensitif abiiiis. Kalau lagi kumat sensitifnya, habislah kita...apa yg kita perbuat pastilah kalau ada kelirunya berarti salah kita.

Entahlah harus nunggu telor ayam jadi martabak spesial dulu ato jadi telor ceplok untuk membuatnya mengerti bahwa masing-masing orang punya waktunya sendiri-sendiri untuk mengungkapkan alasan.

Menurutnya, saya salah karena tidak bercerita jauh-jauh hari tentang pernikahan saya sehingga dia tidak bisa menghadirinya. Dia merasa tak saya anggap spesial karena bukan orang yang pertama tahu tentang pernikahan saya. Okay, saya salah.

Saya sudah mengakui kalau saya salah dan meminta maaf tapi tetap saja tanggapan-tanggapan obrolannya garing. Mungkin, mungkin loh ya ini...karena saya tak tahu pasti, mungkin karena dia merasa bahwa dirinya tak saya anggap sebagai sahabat lagi jadi tak perlu lah lagi untuk menanggapi obrolan-obrolan saya seramah sebelum pernikahan saya.

Mencoba berdamai bukan hanya sekali saya lakukan. Seingat saya sih sudah lebih dari 2 kali. Tapi apalah saya ini, hanya manusia biasa yang penuh dosa sehingga sepertinya memang hanya tanggapan kurang ramah saja yang pantas saya terima.

Yaaaah, saya cuma mampu bercerita saja tentang hal ini. Sekedar untuk pengingat saja untuk saya. Bila esok-esok hari saya bertemu lagi dengan orang yang bertipe seperti ini, sebaiknya saya berhati-hati dalam menjaga hubungan pertemanan.

Hidup memang tak pernah akan berjalan selalu mulus karena onde-onde yang mulus tanpa wijen bukanlah onde-onde tapi disebut kasturi. Semoga hidup teman saya selalu mendapatkan yang terbaik dari Sang Pencipta, aamiin. Saya tak berani mendoakan yang lain lagi, takut makin didampratnya saya nanti. Hehehe :D 

Pelajaran yang saya dapat adalah tak mudah ternyata bagi orang kebanyakan untuk benar-benar ikhlas mendoakan kebahagiaan seseorang tanpa harus tahu latar belakang proses kebahagiaan itu terjadi. Sekali lagi, pelajaran ikhlas menjadi tema dalam kehidupan ini. 

7.31.2015

...setengah nyawa...

Menurut beberapa orang, pasangan hidup berarti setengah nyawa kita, separuh hati kita, atau apalah yang bersifat seperdua dari diri kita. Bagi saya, pasangan hidup artinya kesempurnaan. Seseorang itu pastilah bisa membuat kita tersenyum sempurna atau gila sempurna :D 

Tahun ini saya memutuskan untuk menerima salah satu lamaran dari seorang lelaki yang sudah lama sekali saya kenal. Pernikahan yang tak biasa untuk budaya Indonesia kekinian. Mungkin karena saya memang 100% aneh, banyak orang menyayangkan pilihan saya terkait pernikahan ini. Saya ulangi, pilihan saya terkait pernikahan ini, bukan orang yang saya pilih untuk saya nikahi loh yaaa...

Pernikahan impian saya adalah menikah hanya dihadiri keluarga inti saya dan pasangan, di tempat yang nyaman, di waktu yang membahagiakan banyak pihak, dengan prosesi inti yang sakral dan utama tanpa neko-neko tambahan kebiasaan budaya, serta biaya yang tanpa perlu berhutang ke keluarga apalagi orang lain. Aneh memang, tapi itulah yang saya inginkan dan itu terwujud. 

Terima kasih Tuhan ;) Konsep pernikahan yang saya pilih tadi ternyata mengecewakan banyak orang di sekeliling saya. Dari mulai kenapa saya memilih tanggal yang masih dalam libur Lebaran, warna pakaian yang saya pilih saat acara, pilihan tata letak ruangan, sampai dengan tak adanya info jauh-jauh hari untuk penyampaian undangan. 

Sebagian besar orang lantas menyalahkan saya dan meminta mengulang proses pernikahan itu,, saya pun bingung. Bingung kenapa harus diulang, bingung kenapa saya harus mengikuti apa mau mereka, bingung kenapa mereka sebegitu pedulinya dengan saya saat ini padahal kemarin-kemarin ketika saya meminta tolong mereka hampir tak mengacuhkan saya dan malah cenderung memandang saya risih karena status saya. Entahlah, saya bingung. Selain memang saya menginginkan konsep pernikahan yang cenderung aneh untuk kebanyakan orang, ada hal yang melatarbelakangi lainnya kenapa saya membuatnya menjadi terkesan mendadak dan ditutup-tutupi. 

Satu.
Saya juga tak pernah paham mengapa saya harus menikah secepat ini. Eh, kalau dari sisi umur, saya sudah termasuk yang terlambat menikah sih. Maksud saya tadi adalah untuk pemilihan tanggal atau waktu pernikahan saya. Saya mengenalnya kembali di bulan April tahun ini, saya dilamarnya tanpa persiapan di bulan Mei tahun ini, dan beruntungnya saya bahwa Ramadhan tahun ini jatuh di bulan Juni tahun ini sehingga saya dapat sedikit bernafas dan membangunkan diri saya dari kebingungan atas apa yang terjadi. Yak, saya memang bingung mengapa saya mendadak terhubung kembali dengan nya, bertemu kembali dengan nya, dan dilamar nya. Semua hal itu masih membingungkan saya dan saya pun bingung dengan diri saya sendiri yang mengucapkan 'iya' ketika dilamar nya. Jadi intinya adalah saya bingung. Sebelum menikah saya bingung, saat menikah saya bingung, dan setelah prosesi pernikahan pun saya masih bingung. Boro-boro bercerita ke orang lain, wong saya mencoba menjelaskan ke diri sendiri saja juga saya bingung. Nah loh..! Sebutlah doa saya terkabul. Saya memang akhirnya menikah dengan seseorang yang sudah saya kenal 11 tahun yang lalu. Doa saya memang meminta untuk diberi jodoh dengan seseorang yang sudah saya kenal dan mengenal saya, baik hanya diri saya dan juga keluarga saya, sehingga tak perlulah saya akan capek-capek bercerita kepada jodoh saya tentang uniknya saya dan keluarga saya. Saya butuh dipahami dan saya mendapatkan itu. Cukup, doa saya terkabul. Terima kasih Tuhan ;) 

Dua. 
Bagi saya, menikah itu berarti bernegosiasi dengan ego. Bisa jadi kita menginginkan banyak hal untuk terwujud di acara pernikahan kita, namun seringkali kita lupa bahwa menikah itu bukan hanya tentang diri kita saja, namun juga tentang pasangan, tentang keluarga. Saya kerap berbeda pendapat dengan orang tua saya, dengan kakak saya, dengan pasangan saya terkait persiapan pernikahan. Semua orang berpendapat dengan egonya masing-masing. Sampai pernah dua kali saya menyatakan bahwa lebih baik saya batal menikah daripada harus mengikuti ini dan itu. Pilihan yang nekat dan gila yang akhirnya saya syukuri karena tak benar-benar saya batalkan. Terima kasih Tuhan ;) 

Tiga. 
Menikah itu menambah masalah yang memang selalu ada dalam hidup kita. Kalimat itu seringkali terucap dari beberapa senior saya yang sudah lebih dahulu menikah. Namun kali ini saya tahu kelanjutan dari kalimat itu, meski masalah makin banyak tapi solusi juga lebih cepat ada karena ada dua kepala,, dua kepala dingin lebih baik dari satu kepala panas. Sebelum menikah, saya sudah terlebih dahulu mengalami stres karena tekanan pekerjaan. Bingung? Pasti lah. Tak ada yang mampu saya kerjakan semua dengan sempurna 100%, hingga akhirnya saya putuskan untuk menyimpannya hanya untuk diri saya sendiri termasuk tanggapan yang akan datang karena saya mengabarkan berita pernikahan saya 2 minggu sebelum acara berlangsung. Silahkan menyalahkan saya, silahkan mencaci saya, silahkan memusuhi saya. Tak perlulah semua orang perlu tahu apa yang terjadi dan saya sudah mempersiapkan diri dari efeknya yang akan timbul. Egois? Mungkin. Yang saya pikirkan saat itu hanyalah acara dapat berjalan lancar dan itu terwujud. 

Terima kasih Tuhan ;) Mungkin saya memang terlambat menikah, mungkin saya memang terlalu banyak memilih, mungkin juga saya tak peka dengan sekeliling saya. Satu hal yang pasti, saya bersyukur karena saya masih dipercaya Tuhan untuk merasakan satu lagi proses kehidupan : MENIKAH. Terima kasih Tuhan ;) 


Psst...saya sedang menghitung waktu untuk proses kehidupan selanjutnya, aamiin.

7.22.2015

Mari Bermimpi Lagi.!

*ini aslinya ditulis di awal tahun yang entah karena apa menjadi baru terbit sekarang*

Yuk menulis mimpi lagi. Kebetulan tahunnya sudah baru, ya tahun 2015. Jadi, rasanya pas bila kita memulai menuliskan mimpi untuk tahun 2015 ini.

Mimpi saya sederhana :
1. Ingin lebih mengenal Tuhan dan Nabi saya.
2. Ingin menikah dengan pilihan Nya.
3. Ingin menerima beasiswa pendidikan S2 di Eropa atau Jepang ;)
4. Ingin umra (lagi).

Aamiin.

7.14.2015

Memilih (atau) Dipilih

Saya pun tak paham kenapa dia yang dipilihNya.

Meski saya berkoar-koar pengen banget ketemu NicSap secara langsung, bukan berarti NicSap yang saya pilih tuk jadi pendamping saya. Saya hanya pengagum NicSap, kalau tuk jadi lebih dari itu saya tak minat. Ketampanan dan kepiawaiannya berakting bakal tak lagi murni saya nilai bila porsi saya lebih dari sekedar pengagum, dan saya tak mau itu terjadi.

Anda tak tahu siapa NicSap? Tak apa, bukan lantas Anda akan menjadi orang penting bila Anda tahu siapa NicSap kok ;)

Kembali tentang orang pilihan, selalu ada jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul di kepala saya. Bila dimulai dari kata kenapa, rekap hasil jawaban menunjukkan bahwa saya memang sudah mulai berbeda memandang dunia dan perkembangannya. Tak lagi hanya ego, namun demi kebaikan bersama. Terlalu berkompromi? Mungkin. Karena pengalaman hidup mengajarkan saya bahwa bila terlalu besar ego kita maka semestapun takkan mendukung usaha kita. Hasil yang kita idamkan bisa jadi malah musnah atau akan balik menyerang kita.

Pada titik hidup inilah saya paham kenapa kalimat 'terlalu banyak pilih-pilih sih' muncul dan menjadi trending topic jawaban bagi para penanya status para jomblo. Hidup memang rumit dan banyak ragam masalah yang muncul sehingga kita harus membuat pilihan. Namun seringkali kita lupa bahwa pemilik hidup ini bukanlah kita, sehingga pilihan yang kita ambil seringkali berdasarkan ego kita dan bukanlah berdasarkan Sang Maha Pemilik. Serumit-rumitnya jalan yang kita tempuh, bila pilihan itu berdasarkan Sang Maha Pemilik, maka hasilnya adalah 'win-win solution' alias kemenangan bersama, tak akan ada yang dikecewakan 100%.

Kemenangan bersama tidak pernah menyatakan keinginan semua orang terpenuhi 100%, sehingga kekecewaan pastilah tetap ada namun berkadar rendah dan sifatnya solutif bila kita permasalahkan. 

Tak percaya? Cobalah praktekan.!
Lakukan semua hal berdasarkan Sang Maha Pemilik, atau kalau untuk saya artinya adalah lillahi ta'ala. Bila tak jua berujung kemenangan bersama, dapat dipastikan dasar Anda belumlah ke Sang Maha Pemilik namun hanya baru ke Sang Pemilik karena ego Anda yang masih membahana di benak Anda.

Musuh terbesar dalam hidup adalah ego diri sendiri. Saya mencoba mengalahkan ego saya beberapa bulan terakhir ini. Semua berawal dari kalimat yang saya temukan di salah satu medsos, yaitu "jodoh jangan dicari, tapi dijebak". Lama saya mencoba memahami hingga akhirnya saya paham arti kata "dijebak". Kata yang berkonotasi negatif namun bila kita mencoba melihat bukan dari sisi kata itu sendiri maka hasilnya bukan hal yang negatif. Suatu jebakan membutuhkan perhitungan yang terkonsep baik. Selalu memiliki cadangan konsep bila konsep sebelumnya tidak berhasil. Namun tolong buang jauh2 semua hal buruk untuk materinpenusun konsep bila hasil yang ingin kita jebak adalah suatu hal baik. Bingung? Cara bekerja Tuhan memamg tak kan pernah tak membingungkan makhlukNya. Bila tak bingung, bisa jadi itu masih cara kerja manusia; bukan Tuhan.

Aiih, sudahlah...saya saat ini ingin berdoa agar saya termasuk golongan kaum yang tak lelah untuk memanjatkan doa-doa baik untuk diri saya sendiri dan semua orang. Aamiin.


Psst. Hadiah terbaik adalah kejutan, dan itu makin istimewa bila dari Nya.

6.28.2015

Bentol

Semua berawal dari penasaran.

Saya, sudah lamaaaaa sekali ingin makan nasi goreng. Mungkin aneh bagi Anda yang belum mengenal saya. Pikir Anda, ya kalau memang ingin makan nasi goreng, ya belilah dan makanlah. Selesai urusan. Namun itu Anda, bukan saya. Kalau saya, pengen makan sesuatu itu bisa berarti makanan yang agak saya pantang untuk memakannya atau yang memang favorit saya. Nah, saya bukan penyuka nasi, sehingga makan nasi goreng bukanlah hal yang penting-penting amat. Apalagi bila ada tawaran makan pecel, pastilah nasi goreng akan saya jadikan pilihan terakhir dalam menu makan saya hari itu.

Kembali ke keinginan makan nasi goreng, hal itu sudah berlangsung sekitar sebulan lebih dan baru terealisasi awal puasa tahun ini. Itupun karena saya sedang dinas di Kupang yang saya kurang tahu warung-warung di sana menjual makanan apa saja. Menurut saya, nasi goreng pastilah ada karena nasi goreng sudah semacam makanan khas Indonesia, mirip-mirip mie instan itulah... ;)

Nasi goreng yang saya makan adalah hasil menitip seorang teman yang berjalan-jalan ke kota, sedangkan saya memilih tetap tinggal di hotel dan menikmati tayangan tv kabel yang tidak saya miliki di kost. Suapan pertama sudah berasa aneh, baik dari segi rasa dan bau. Tapi waktu itu saya pikir "sudahlah, mungkin karena agak kelamaan di jalan..", sehingga saya tetap memakannya sampai kira2 separo lebih saya merasa kenyang dan saya tinggalkan begitu saja. Setelah makan nasi goreng itu, saya melanjutkan aktifitas saya menyaksikan tayangan tv kabel hingga terlelap. 

Walhasil, ketika alarm saya berbunyi sekitar pukul satu dini hari untuk sahur, saya merasa badan saya gatal-gatal. Saya hanya garuk-garuk tanpa saya lihat seperti apa bentuk kulit saya yang gatal itu. Namun setelah saya mulai merasa gatal dibagian lengan dan dahi, barulah saya berjalan menuju ke arah kaca yang ada di ruangan kamar hotel dan menemukan bahwa dahi, lengan, dan paha saya bentol-bentol merah seperti digigit nyamuk satu koloni.

Melihat bentol-bentol yang banyak, saya panik. Saya basuh area-area tadi dengan air, kemudian saya olesi dengan minyak beruang dan minyak telon. Saya tunggu sekitar 15 menit dan tak ada pengaruh apapun. Kemudian saya mencari obat alergi yang biasa saya bawa, saya meminumnya satu butir dan beberapa saat kemudian saya tertidur karena pengaruh obat. Saya pun kemudian terbangun lagi ketika alarm menjelang subuh berbunyi dan bentol-bentol itu masih ada dan makin meluas.

Itulah awal saya kena bentol-bentol tak jelas ini. Panik, tersiksa, panas, gatal, dan perasaan tak nyaman lainnya yang ada. Namun karena sudah 3 akhir pekan saya lewati dan saya sudah mencoba berbagai macam pengobatan, akhirnya saya menjadi merasa punya teman baru, yaitu si bentol. Saya sudah tak terlalu memperdulikan kehadirannya, kecuali bila ada rasa panas mengikuti. Bila hanya gatal biasanya saya diamkan, namun bila ditambah panas, barulah saya akan panik. Tapi yaa...., sepertinya saya harus sering-sering berdamai dengan si bentol.

6.07.2015

menikah (?)

Kata 'nikah', 'hamil', 'kerja' dan 'sekolah' adalah kata-kata yang menimbulkan apresiasi berbeda antara pelaku dan korban. Pelaku dalam hal ini bisa saja yang menanyakan, mengungkapkan, atau mengucapkan perihal salah satu dari empat kata tadi, dan korban adalah yang mendapatkan pertanyaan, ungkapan atau ucapannya.

Bagi saya, setiap manusia pastilah akan melewati fase-fase berada pada kondisi kritis, yaitu kondisi yang merealisasikan dari empat kata di atas. Minimal, dua dari empat kondisi akan terealisasikan dan terjalani. Semua itu akan terealisasi tidak serta-merta sang bangau datang membawa selembar kertas yang menyatakan bahwa kondisi-kondisi tersebut telah terjalani, tapi semua membutuhkan usaha dan doa di masa sebelumnya, saat, dan sesudahnya.

Faktor yang tidak penting dan tidak mutlak kadangkala malah terlihat penting dan mutlak di masa kini. Contohnya adalah saat seseorang mendapatkan pekerjaan di tempat bergengsi dan memang menjadi mimpinya. Orang-orang disekelilingnya akan turut bersukacita bila ditraktir gaji pertamanya, dan itu menjadi mutlak atau penting karena gengsi yang akhirnya timbul, bukan kewajiban. Kalau menilik esensi utama dari memiliki penghasilan, seharusnya orang tersebut segera menyisihkan sebagian hartanya (baca: gaji) untuk kaum yang berhak. Kalau di Islam disebut zakat maal dengan besaran 2,5% dari total penghasilan yang didapatnya. Namun manusia kekinian terkadang lupa atau bahkan sengaja melupakan yang wajib, dan malah mementingkan gengsi semata. Ahh, entahlah...

Saya kurang paham kenapa bila kita melanggar gengsi tersebut malah seringkali kita mendapatkan cemoohan dari masyarakat, meskipun kita telah menunaikan kewajiban kita.

Rasa-rasanya, hidup kita ini sudah dipenuhi dengan keangkuhan dan gengsi semata ketimbang yang pokok dan wajib yang seharusnya dijalani dahulu.

Ahh, sudahlah, ngelantur apa saya ini....

#eleginontonpameranweddingyangsuperdupermegah

1.28.2015

Let's go to Flores

Agak ragu ketika menerima disposisi dari atasan untuk menengok lokasi kerja baru yang akan dibuka di salah satu kota di Pulau Flores. Panas, tanah karang, dan susah cari makan adalah 3 hal yang terlintas di kepala. Mendengar kata "Larantuka" saja rasanya jauh sekali, namun akhirnya saya terima perintah itu karena rasa penasaran akan kota yang dipercaya sebagai "Yerusalem-nya Indonesia".

Disposisi dadakan itu membuat saya terpaksa memilih rute mendarat di Maumere (Wai Oti) dengan transit di Bali (Ngurah Rai). Selain Bali, kita juga dapat transit di Kupang (El Tari) untuk langsung mendarat di Larantuka (Gewantayana). Perjalanan Maumere ke Larantuka membutuhkan waktu sekitar 3 jam menggunakan transportasi darat, kali ini saya dan rombongan memilih menyewa 1 unit kendaraan roda empat yang sudah siap menjemput di Wai Oti (red-sekarang berganti nama menjadi Bandar Udara Frans Seda) dan mengantar saya dan rombongan ke Larantuka untuk selanjutnya membawa kembali saya dan rombongan ke Maumere.



Perjalanan 3 jam itu ditempuh dengan penuh syukur kepada Sang Pencipta karena saya dan rombongan disuguhi pemandangan alam yang luar biasa mengagumkan.






Sayangnya tak banyak foto yang saya ambil sepanjang Maumere - Larantuka. Kalau ingin melihat secara komplit, memang sebaiknya bukan dalam rangka kerja namun liburan, karena banyak wisata alam yang masih perawan sehingga menarik untuk dikunjungi.

Psst...kalau ada yang mau menyusul ke Flores, jangan lupa bawa kamera ya untuk mengabadikan moment terbaik selama disana :)

11.11.2014

...beda...

Setiap saat saya memikirkannya.., tapi pagi ini saya menulis tanpa sadar bahwa saya ingin menikah dengan orang lain...

Mungkin, di dalam lubuk hati saya terdalam saya hanya senang bertemu kembali dengan cinta pertama saya, bukan untuk benar2 memilikinya.

Toh, diapun tak ada respek dengan saya sama sekali sepertinya.

Am givin' up on you, bro..!

#cintakrupuk #endjourneyoflovingyou

11.03.2014

MerinduMu

Akhir-akhir ini aku merindu Mu ya Rabb.

Tak lagi aku merasa semampu dahulu menghadapi dunia ini ya Rabb.

Undang kembali aku menjadi tamu Mu di rumah Mu yang agung di tanah haram Mu.

Sungguh aku merindu hingga kelu tak mampu aku berucap.

6.14.2014

Maaf

Harusnya pagi ini saya tersenyum girang.
Harusnya pagi ini saya tak perlu sedih.

Tapi pagi ini rasanya saya telah mencurangi karena saya terlalu memaksa meminta kepada Sang Pemilik Hati.

Maafkan hamba yang mendadak mencintainya melebihi cinta hamba pada Mu.

Maaf. Astagfirullah.

5.28.2014

Untukmu dan Hatimu yang Tak Mampu Kuraih

Pagi itu aku menaiki bis itu dengan ketakutan. Aku takut terlambat karena angkutan umum langgananku penuh sehingga aku tak kebagian tempat untuk diangkutnya menuju sekolah.

Kulihat sekeliling isi penumpang bis sambil mulutku komat-kamit berucap dzikir menenangkan hatiku. Aku takut terlambat dan aku takut karena memang belum pernah naik bis ini sendirian. Ternyata tak ada yang istimewa di dalam bis ini, pikirku. Aku lanjutkan merapal dzikir hingga tiba di jalan aku harus turun. 

Aku masih penuh ketakutan ketika turun dari bis melihat jalan menuju sekolah masihlah gelap. Jantungku berdebar tak karuan, nafasku mendadak satu-satu, aku panik. Langkah kaki kupercepat agar segera mencapai sekolah. Namun, mendadak aku sadar bahwa aku tak sendiri. Ada yang berjalan bersamaku-di belakangku. Kucuri pandang ke arahmu dan kau tersenyum, mengisyaratkan kau bukanlah orang yang perlu kukhawatirkan. Aku aman.

Semenjak hari itu, aku selalu mencarimu ketika berangkat sekolah menggunakan bis. Setiap aku melihatmu ada bersamaku menjadi penumpang bis, aku tahu bahwa aku aman, meski kau tak pernah menghiraukan hadirku. Kau membuatku merasa aman dan nyaman. Semenjak hari itu pula, aku tahu bahwa kau juga bersekolah di tempat yang sama denganku, sehingga untukku kau adalah penjaga jiwaku.

Tanpa sadar hari berlalu menjadi tahun, aku kehilanganmu pindah melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Aku mulai gusar. Setelah kutahu kemana kau pergi, kuputuskan bahwa aku kan melanjutkan sekolah yang sama denganmu. Paling tidak kau akan menjaga jiwaku di awal hari kumulai aktifitas baruku yang seringkali tak mudah dilalui, pikirku saat itu.

Tuhan menjawab doaku, aku mengikutimu. Namun masa telah berganti dan aku mengenal sosok lain yang kupikir mampu menjaga jiwaku sepertimu menjaga jiwaku. Ternyata aku salah, kau tetap penjaga jiwaku yang terbaik meski kau mungkin tak pernah sadar kehadiranku. Kau tetap yang teristimewa.

Tahun berlalu hingga kutak tahu kemana rimbamu. Aku menjadi sosok yang lebih berani ketimbang kecilku dulu. Tanpa kau sadari, kau adalah penyelamat dan penjaga jiwaku. Tanpamu saat itu mungkin tak kan kudapat hari indahku saat ini. Tanpamu saat itu mungkin aku kan tetap menjadi gadis cilik penakut dan manja.

19 tahun kemudian kita bertemu. Kau nampak rapuh dan aku sedih melihatmu seperti itu. Senyummu yang dulu masih ada namun tanpa sorot mata yang sama seperti kau membagi senyummu pertama kali denganku. Lukamu terlalu dalam. Entah apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu kembali bersinar seperti kala itu. Tak perlu seterang sinar yang lalu, cukuplah kau memiliki sinarmu lagi. Itu harap dan doaku.

Aku disini hanya mampu diam melihatmu meski hati dan jiwaku ternyata selalu tertuju padamu kemanapun dan kapanpun aku pergi menjauhimu. Bila dulu aku hanya mampu memandangi punggungmu dan aku sudah merasa tenang, berbeda dengan saat ini. Setiap kumemandang fotomu, aku tahu hidup dan jiwamu tak setenang dulu.




Nb. Aku tak pernah tak jatuh cinta padamu sejak pertama kali kau membagi senyummu padaku.

5.14.2014

Tuliskan Mimpimu..!

Percaya tak percaya, semua mimpi saya sejak kecil saya tuliskan berulangkali di sebuah buku yang entahlah kemana buku itu sekarang pergi.

Dari mulai saya ingin jadi apa, ingin kemana, ingin dengan siapa, ingin bagaimana, dan ingin ngapain aja,, hampir semua saya pernah tulis. Dan itu ternyata semacam doa dari seluruh sel dalam tubuh saya dan didukung semesta karna saya membaginya lewat tulisan.

Tuhan tak pernah tidur, itu yang saya yakini. Meski mimpi dan ingin saya lambat hadir, tapi perlahan satu persatu mulai terwujud. Ternyata doa saya sepertinya disepakati Tuhan dan diberikan kepada saya di waktu yang terbaik yang saya siap hadapi menurutNya.

Saat ini saya sedang menanti salah satu mimpi saya terwujud agar mimpi-mimpi lainnya juga dapat segera terwujud.

Yuk mulai tulis lagi apa yang anda inginkan di secarik kertas, agar Tuhan tahu dan semesta ikut mengaminkan doa itu.

4.16.2014

Senja di Sekolah Masjid Terminal Depok

Cukup seringlah saya melewati jalan itu tanpa pernah sadar bila di tepi jalan itu berdiri suatu bangunan tempat belajar mengajar. Sore itu saya kembali ke sana dengan tujuan dua hal, yaitu : buka puasa bersama alumni UGM sekalian bakti sosial utk Sekolah The Master. Saya sama sekali tidak tahu menahu tentang agenda acaranya akan seperti apa karena keikutsertaan saya sore itu tak lebih dari ajakan koh Oyong Hendri dan memang saya tak ada acara apa-apa sore itu. Pepatah cina nya itu "waton melok kumpul-kumpul lan dadi pupuk bawang".

Ya, sore itu kenyataan berkata lain. Saya, yang ketika acara dibuka oleh mas Puthut, sengaja memilih langsung duduk di tengah arena agar dapat berbaur dengan peserta baksos. Saya pun ikut memperhatikan arahan-arahan dari mas Puthut yang sore itu bertindak sebagai pengisi acara-yang menurut pemikiran saya saja sih. Di tengah-tengah acara pembukaan oleh mas puthut, mendadak nama saya disebut untuk berbagi cerita dengan peserta baksos, tanpa ada tema sama sekali. "Lha blaik jal..!! Bakal ngapain nih..? Curang banget sih, yang lain dikasih tema lha saya disuruh menjawab pertanyaan apapun dari mereka.", itu semua yang ada di otak saya saat itu.

Ice breaking kelompok saya dimulai dengan pemberian senyum lebar kepada semua partisipan dan kalimat pembuka "Yak, selamat sore semuanya, seperti yang tadi sudah disampaikan, adakah yang ingin bertanya-tanya? Bisa tentang apa aja sih nanyanya...dan inshaAlloh bakal saya jawab selama saya bisa jawab ya.."
Dan ternyata segerombolan cewek-cewek ABG itu dengan cepat bertanya "Di UGM ada jurusan apa saja ya kak?", belum sempat saya jawab, ada yang menambahi "Ada jurusan arkeolog gk kak?",,di otak saya cuma terlintas "wedew..!"
Mungkin karena tampang saya berubah bingung n galau, merekapun terdiam. Saya akhirnya menjawab "UGM punya buanyak jurusan, keknya semua ada deh, cuma untuk detilnya saya gk hapal." Langsung ada yang menyahut "Kakak jurusan apa? Di Jogja ngekos atau rumah sendiri? Kakak kuliah bayar sendiri atau dapat beasiswa?", satu persatu saya coba jawab hingga ada pertanyaan yang cukup menggelitik "Jadi sebenernya, kakak ini kuliahnya jurusan teknik ato hukum? Sekarang semester berapa?". Sontak saya langsung merasa gdubrak krompyang,, saya masih dianggap mereka sebagai bukan alumni. Woy...!!! Seimut itukah saya.? :p wkkkk...
Di setiap jawaban saya atas pertanyaan mereka, agak saya beri sedikit doktrinasi sih bahwa janganlah sekedar ingin kuliah untuk bekerja ikut orang, tapi berkuliah untuk menambah ilmu, wawasan dan memperluas pola pikir dan cara pandang kita dalam hidup. "Terapkan saja ilmu yang sudah bertambah itu dengan membuka lapangan pekerjaan sendiri,, bisa dari pengembangan hobi maupun karena kebutuhan orang-orang yang ada di sekeliling tempat tinggal kita". Masih ada lagi pertanyaan, "Kakak cita-citanya dulu apa? Kesampaian gk? Trus kalau sampai salah ambil jurusan kuliah bagaimana dong caranya? Bisa pindah gk sih?", jawab saya sederhana, saya ceritakan saja kisah saya "Dulu saya bercita-cita masuk kuliah jurusan nuklir tp karena dilarang orang tua, akhirnya cita-cita saya ganti 'pengen jadi orang sukses', meski merasa sudah salah jurusan, semuanya saya syukuri dan tetap jalani asal saya bisa sesukses keinginan saya. Berdamailah dengan keadaan bila kenyataan tak sama dengan impian,, terus belajar, berusaha, dan berdoa,, Tuhan pasti kasih solusinya. Selama apa yang kita lakukan itu positif, pasti hal-hal baik akan mengikuti hingga kita tak sadar kalau sebetulnya kita sudah salah ambil jurusan." Dan wajah-wajah lugu itu mengangguk-angguk setuju, dimana beberapa ada yang nampak mendapat semacam 'pencerahan' dan beberapa lagi langsung sibuk kembali ke kesibukannya sendiri-sendiri alias ngobrol entahlah apa dengan temannya.

Dalam hati sih mbatin "Buset dah, kok malah jadi provokator gini sih, haduh, kalo menyesatkan gimana ya.? Ah, cueklah,, toh gk kusuruh bikin bom or teror ini." :D

Dan sore itupun berganti menjadi petang tatkala acara berganti menjadi kultum oleh ustadz entah siapa,serta saya malah jadi kebingungan sendiri mo ngapain lagi kala itu.

1.18.2014

Entah

Mungkin ini keluhan.

Bisa juga hanya curahan hati.

Saya ingin menangis dari kemarin, entah apa alasannya.

Saya bingung.

Saya ingin mengeluh, namun hanya ingat untuk harus terus bersyukur.

Baik ataupun buruk menurut saya, itulah anugrah Tuhan dan harus disyukuri.

Tapi saya tetap ingin menangis.

Hanya menangis tanpa perlu menjelaskan alasan dibalik tangisan itu.

12.24.2013

Cinta yang Kucari

Bukan mengharapmu akan mencintaiku selamanya...tapi ku kan lebih mengharap bahwa Sang Khalik saja yang melakukan itu barulah dirimu.

Maaf jika aku menjadikanmu yang kedua setelah Sang Khalik, tapi kuyakin kau tak kan marah dengan pilihanku yang satu ini.

Aku tak kan bisa bertemu denganmu bila restu dari Sang Khalik tak ada untuk kita dan kutahu kau pun akan menyetujui hal ini.

Bila nanti ku kan berjalan bersamamu hingga waktuku habis, kuingin hari-hariku hanyalah tentang Sang Khalik, dirimu dan keturunan kita kelak.

Ku tahu semua ini masih harapan semuku, tapi kuyakin kau kan setuju bahwa apapun gundah dalam hatiku akan selalu kudiskusikan hanya dengan Sang Khalik dan bila kelak kita bersama kaulah yang kedua yang kan kutuju dan kuajak diskusi.

Jadi, cinta yang kucari adalah cinta Sang Khalik padaku,, dengan mengirimmu padaku,, dengan tetap mencintaiNya selamanya.

Itu sudah.

*nb: waiting isnt always easy, but knowing that guy is you, I'll be patient and pleasant

12.10.2013

.tu.me.manque.

Semacam mimpi, kau datang lagi setelah 14 tahun lalu kau meninggalkanku dalam tanda tanya dan kepercayaan diri yang sungguh rendah.

Kau datang, tanpa basa basi, membuatku tergelitik untuk menggali semua yang telah terkubur waktu.

Aku tak tahu apa yang salah sehingga waktu membawamu kembali padaku. Kukira hidupku telah selesai dan tak perlu lagi ku merasakan lagi apa yang disebut jatuh hati. Tapi Tuhan punya rencana yang indah sepertinya,, kau disuruhNya kembali masuk dalam hidupku,, kau membuatku merasakan kembali bahwa kau pernah menjadi semangat dalam menjalani hidupku namun dengan cara yang lain.

Yaa...dulu aku malu-malu melihatmu, bingung bereaksi setiap bertemu pandang denganmu, dan memilih berputar haluan bila akan bertemu dirimu. Aku hanyalah mampu menjadi pengagum rahasiamu, selebihnya aku kelu dan lemas tak berdaya.

Sekarang,, aku tak mampu tak berbincang denganmu. Entah untuk bertemu, rasanya masih tak mampu. Rasa tak percaya diri itu masih terus menghantui, ditambah cerita akanmu membuatku ragu untuk maju memperkenalkan diri.

Apapun itu, aku sadar dan yakin bahwa kau adalah cinta pertamaku dan kuberharap bahwa kau akan menjadi orang yang menemaniku hingga Tuhan memanggil salah satu diantara kita.

Muluk? Kurasa tidak. Kau adalah seseorang yang akan mampu menyempurnakan masa depanku. Tak ada cela yang perlu kucari karena aku memahamimu meski kita belum bertemu (lagi).

Aku hanya sedang menunggumu lepas dari masa lalumu dan mengajakku berkelana bersama selamanya.

Bila ternyata kau tidak untukku, kali ini aku akan berhenti berharap karena aku telah lelah mencari.

Tuhan, bisakah dia untukku karena ku tak mampu berhenti memikirkannya sedetikpun meski ku sudah berusaha tak mengindahkannya sama sekali..?

11.08.2013

Mungkin

Mungkin karna dulu namamu terlalu besar dan banyak kutulis di mana-mana,,

Mungkin karna pagi ini saya lapar,,

Mungkin karna hidup bukanlah seperti roda yang berputar,,

Mungkin karna jawaban dari setiap doa-doa kita adalah kejutan yang sulit untuk diketahui alasannya,,

Mungkin karna apapun bentuk usaha hidup adalah perlu sabar dan ikhlas,,

Mungkin karna saya jutek.

#mornin'poem #suddenlymissyoulikecrazy

10.25.2013

Feeling Blessed

Seharian kemarin rasanya rock n roll banget, banyak rencana tak terwujud,, tapi setelah mencoba dievaluasi kembali dengan otak n hati yang tenang,, semua rencana sebetulnya terlaksana semua namun dengan cara yang Tuhan anggap lebih baik ketimbang cara saya,, sehingga tak perlu lagi mendustakan semua nikmat Tuhan itu.

Thank's Alloh,, yesterday was Frea-(k)-day 😊